Jumat, 18 September 2009

17 September 2009- 27 Ramadhan 1430.

Entah kenapa, mulai tadi malam hatiku gelisah sekali, Salat Tarawih terganggu, bacaan tilawah Imam tarawih tidak dapat kuresapi. Pikiranku bercabang kemana-mana, ngelantur tak dapat dikendalikan. Akhirnya kuputuskan keesokan paginya aku harus telpon ke Indonesia, sebab sudah lama aku tidak melakukan kontak dengan keluarga dan sahabat. Apalagi Hp-ku mati beberapa minggu ini, jadi komunikasi betul-betul terputus.
Tadi pagi seusai Salat Dhuha, aku langsung munuju Mahattah, mununggu kendaraan jurusan Suq Madrasah. Belum sampai dua menit el-tramco sudah muncul dari arah Hayy Sabi’, dengan sedikit memberi kode, el-tramco tersebut berhenti di depanku dan membawaku ke tempat tujuan. Al-hamdu lillah, tempat telpon kebetulan sepi, sehingga aku bisa langsung menelpon keluarga tanpa harus antre terlebih dahulu.
Nomor yang pertama kali aku kontak adalah nomor Hp bapakku, ternyata ada gangguan jaringan dan tidak tersambung. Ketekan keyboard, memencet nomor adik, hasilnya tetap sama, ada gangguan jaringan. Kuulangi lagi menghubungi nomor bapak, al-hamdulillah terhubung. Adikku, Toyyibah, yang mengangkat telpon. Aku mulai tanya-tanya kabar keluarga dan sekolah adik-adikku, jawabannya memuaskan, keluarga dalam keadaan baik semuanya, dan sekolah adik-adikku berjalan lancar. Adik juga menanyakan kabarku di Mesir, kujawab dengan “Baik-baik saja”. Obrolan kami berlangsung sekitar lima menit, tiba-tiba adikku menanyakan kenapa dia SMS tidak aku balas, aku jelaskan bahwa Hp-ku beberapa hari ini rusak dan belum diperbaiki. Karena adikku sedang berada di sekolahnya, Apalagi hari itu hujan, suaraku tidak jelas terdengar dari sebrang. aku tidak berbicara dengan ayah dan ibuku, namun aku berjanji keesokan harinya aku akan menelpon kembali.
Puas berbincang-bincang dengan adik, aku langsung mengontak nomor teman-temanku, dan hanya nomornya Sabar yang dapat dihubungi, nomor teman lainnya di luar jangkauan (maklum rumahnya di puncak gunung). Waktu aku hubungi Sabar sedang berkumpul di rumah Dwi Erika Wati membahas rencana reuni MTS yang akan diadakan tanggal 24 Semtember ini. Ada enam orang kawan MTS yang berkumpul disana; Sabar, Mukim, Bukhari, Ema, Dwi dan Anisa. Teman-teman bergiliran ngobrol denganku.
Mukim hanya bertanya akan kabar kuliah di Kairo dan kapan mau pulang. Sedangkan Bukhari bertanya tentang kapan aku pulang saja. Bukhari memintaku segera pulang ke indonesia, dia khawatir jika aku terlalu lam di mesir kan menjadi sekularis seperti Jamal Abdul Nasir. Dengan nada gurauan aku tanggapi kekawatiran temanku yang satu ini dengan ungkapan, “Tidak mungkin aku menjadi seperti Jamal abdul nasir, aku malah akan menjadi seperti Imam Hassan al-banna. Tapi jangan doain aku dibunuh orang ya?”. Mendengar tanggapnku tersebut Bukhari tertawa dan berkata bahwa ia siap mendukung saya. Berbeda dengan para Harim, mereka sungkan-sungkan berbicara atau memang tidak ada yang mau dibicarakan. Memang selama di MTS, aku tidak pernah ngobrol ama mereka kecuali dengan Annisa yang kebetulan agak TB (tomboy), pantas saja mereka tidak ada topik yang mau diobrolkan. Mereka Cuma tanya kabar. Bosen, enam orang teman yang aku ajak ngobrol, semuanya hanya tanya kabar. Memang tidak ada pertanyaan lain apa.
Rupanya Sabar tidak sabar lagi (tidak sesuai dengan namanya) ingin ngobrol panjang lebar denganku. Tapi berhubung disana hujan dan suaranya tidak jelas terpaksa aku hanya bisa berjanji bahwa pada tanggal 24 nanti aku akan nelpon. Aku juga berjanji akan kirim foto ama Sabar. Akhirnya aku sudahi perbincangan singkat ini.
Karena tanggung, aku mencoba menghubungi Bapak Husain Tauanaya, guru sejarah islam-ku ketika di Aliyah dulu. Beliau berpesan agar kami rajin belajar di Cairo, dan juga beliau titip salam buat teman-teman PK di Cairo. Tidak lupa pula kesempatan ini aku gunakan untuk minta maaf atassegala kesalahan ketika di Aliayah dulu, sering bolos dan tidur di kelas. Beliau menanggapi permintaaan maafku dengan tertawa. Beliau berkata, “Itu bukan nakal, akan tetapi kreatif”. Kreatif buat masalah kaleee.
Tepat jam 11, aku pulang ke rumah. Plong rasanya hati ini sehabis menghubungi saudara dan teman- teman, apalagi sudah enam tahun lebih, sejak aku lulus MTS, tidak pernah bertemu dengan mereka. ingin rasanya aku inkut reunian, akan tetapi apa daya, aku hidup di negeri jauh dari tanah air. Semoga nanti ada kesempatan bersilaturrahmi dengan mereka. amin.
Cairo, 17 September 2009

0 komentar: