Rabu, 09 September 2009

As-Salam tak lagi Salam

Malam ini, malam kesembilan belas Ramadhan, saya lihat barisan Shaff Salat Isya dan Tarawih masjid As-Salam sudah semakin maju. Shaf-shaf yang biasanya penuh sampai melalap halaman Masjid dan separuh jalan raya, sekarang separuh Masjid saja sudah termasuk al-Hamdu lillah. Saya kira Cuma di Indonesia saja yang banyak masjid penuh di hari pertamanya saja, ternyata di Mesir juga gak kalah serunya, namun bedanya dengan di Indonesia sangat jauh, bagai langit dan tape. Kalau di Indonesia setelah malam kesepuluh bisa dijamin Jama’ah hanya tinggal setengah shaff saja, tapi di Mesir Masjidnya masih hampir penuh dengan jamaah.

Begitu juga khutbah istirahah (pidato/semacam kultum rohani) setelah Rakaat keempat, yang biasanya sang Khotib menjelaskan hikmah dan rahasia dibalik ayat yang dibaca ketika Tarawih, malam ini sang khotib hanya mejelaskan bagaimana tatacara membersihkan hati dan durasi waktunya tidak sampai tujuh menit, padahal biasanya khutbahnya paling cepat adalah dua puluh menit.

Kebetulan khotib yang mengisi di Masjid as-Salam tiap malam selalu berganti orang. Itulah salah satu keunikan Masjid as-Salam. Padahal masjid tersebut tidak pernah minta bantuan dana kepada siapapun, tapi banyak dai keren yang mengisi di sana (rata-rata doktor, dekan atau mantan dekan fakultas-fakultas dakwah al-Azhar).

Ini bukan berarti saya sok rajin beribadah dan sok alim, tapi ini adalah bentuk rasa prihatin saya terhadap fenomina keislaman belakangan ini. Kenapa umat Islam kok semakin malas untuk merayu tuhannya? tidakkah mereka tahu bahwa pada bulan yang penuh berkah ini pahala sebuah amal akan dilipatgandakan berkali-kali lipat. Di bulan ini pintu sorga dibuka selebar-lebarnya dan pintu neraka ditutup serapat-rapatnya.

saya kagum terhadap salah satu teman saya, yang kebetulan dia tinggal di daerah Saqar Quraisy, dia tiap hari harus naik angkot demi bis

0 komentar: