Selasa, 15 September 2009

SEANDAINYA ADA DUA ALLAH


Seperti hari-hari sebelumnya, seusai salat subuh aku masih diam di Masjid as-Salam mendengarkan siraman rohani yang dibawakan oleh Syekh Jamal abdullathif. Pagi ini beliau mengupas tema tentang qiyam sebagai salah satu sarana untuk menghapus dosa. Beliau mengutarakan tema ini dengan lugas dan mampu menghipnotis para Jammah. Dengan gaya bahasa yang khas ditambah ekspresi yang menyakinkan beliau mampu membuat mata para Jamaah hanya tertuju pada beliau. Maklumlah beliau sebagai penganut ajaran Sufi kawakan, pastinya sudah sangat biasa berhadapan dengan massa dan mempengaruhi mereka.
Beliau biasa menutup ceramah beliau dengan doa, substansi doa beliau selalu berkisar pada permohonan ampunan dan rasa kefakiran kepada Allah. Namun pagi ini ada bagian dari doa yang beliau panjatkan membuat fikiranku kacau dan tidak khusyuk mengamini lagi. Beginilah bunyi doa yang membuatku kacau Rabbanâ iqdhi hawâijanâ wa lâ tukhayyib rajâ`anâ, fa inna ‘indanâ hawâ`ija katsîrah wa anta wâhid lâ ilâha ghayruk (Wahai Tuhanku, hamba mohon tunaikanlah keinginan hamba dan jangan Engkau kecewakan harapan hamba, karena sesungguhnya hamba mempunyai banyak keinginan, sedangkan engkau itu tunggal, tidak ada tuhan selain engkau). Sesungguhnya dilihat dari substasi lafazh dan makna, doa tersebut tidak ada yang yang salah. Otakku saja yang mungkin dlaam keadaan hank, butuh diinstall ulang.
Mendengar kalimat “Karena sesungguhnya hamba mempunyai banyak keinginan, sedangkan engkau itu tunggal, tidak ada tuhan selain engkau”, otakku berfikir dan bertanya-tanya, “Seandainya di dalam Islam ada dua tuhan atau tiga seperti dalam agama Hindu, apakah aku masih akan berdoa kepada Allah”. Sebab dalam doa tersebut, sangatlah jelas betapa takut sang Syekh jika harapannya tidak tercapai, Beliau akan minta kepada siapa lagi kecuali kepada Allah dan Allah itu hanya satu. Jiak Allah menolak, maka siapa yang mampu memenuhi.
Seandainya Allah itu ada dua, khan enak (astaghfirullah), jika tuhan satu tidak mau, toh masih ada tuhan yang lain. Kita bisa mencoba semuanya, tuhan mana yang paling sayang kepada makhluknya dan tuhan mana yang paling medit? Tuhan siapa yang kejam dan siapa juga yang lembut? Atau kita bisa menjadi seorang hamba yang disayang oleh bayak tuhan, layaknya seorang cowok yang dicintai banyak gadis, betapa senangnya.
Namun sebelum ngelindur terlalu jauh, fikiran tersebut segera aku hentikan. Aku takut gara-gara fikiran yang ngawur ini, hatiku terkena virus syakk dan imanku akan goyah. Segera beristighfar (bukan tiga kali), memohon ampun kepada Allah atas kelancanganku ini dan aku mengulang membaca dua kalimah syahadat, merefresh ulang imanku yang sudah lemah ini.
Bagaimana aku bisa berfikir lancang seprti itu, seakan-akan aku lupa (atau pura-pura lupa) akan ayat Allah dalam surah al-Anbiyâ` ayat 22 yang berbunyi, “Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan selain Allah, tentulah keduanya kan binasa. Maha suci Allah pemilik ‘Arsy dari apa yang mereka sifati” dan ayat Allah dalam surah al-Mu`minûn ayat 91, “Allah tidak mempunyai anak dan tiada tuhan lain besertanya, kalau begitu, tentulah setiap tuhan tentu akan membawa makhluk yang diciptakannya dan sebagian dari tuhan-tuhan itu  akan (berlomba-lomba) mengungguli sebagian yang lain, maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu”. Bagaimana aku bisa memiliki fikiran seperti itu, padahal ketika di tingkat satu kemarin, aku sudah belajar buku Tauhid karya Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali tentang hakikat keesaan Allah dan imposibiltas adanya dua tuhan atau lebih. Tapi demikian sifat manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang ia dapatkan, ia selalu ingin mendapatkan lebih dan lebih. Namun apa daya, otak ini diciptakan dengan segala keterbatasan, bagaimana mungkin manusia yang limitted bisa menjangkau tuhan yang unlimitted. Jangankan untuk mencapai esensi tuhan, jika manusia mampu mengenal hakikat dirinya sendiri, maka ia sudah termasuk manusia super. Sangatlah tepat bimbingan yang dipetuahkan oleh Rasul, “Berfikirlah kamu akan makhluk Allah, tapi janganlah kamu berfikir tentang hakikat Allah” ().


0 komentar: