Sekitar tujuh tahun lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMP. tepatnya Pada hari Ahad, saya dan salah seorang sahabat, Iman sedang asyik menikmati sajian berita koran harian JAWA POS.
Biasanya setiap hari Ahad, JAWA POS menyajikan rubrik yang betul-betul menarik. Sebagian teman ada yang tertarik membaca Horoscop, ada juga yang suka membaca Konsultasi Seks dengan dr. Boyke, sedangkan saya sendiri lebih suka membaca rubrik Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) yang selalu up date menginformasikan serta membahas ide-ide Islam Progressif, adapun Iman merupakan fans beratnya dr. Boyke.
Biasanya setiap hari Ahad, JAWA POS menyajikan rubrik yang betul-betul menarik. Sebagian teman ada yang tertarik membaca Horoscop, ada juga yang suka membaca Konsultasi Seks dengan dr. Boyke, sedangkan saya sendiri lebih suka membaca rubrik Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) yang selalu up date menginformasikan serta membahas ide-ide Islam Progressif, adapun Iman merupakan fans beratnya dr. Boyke.
Di tengah kekhusyukan menyerap informasi KIUK, tiba-tiba dengan gaya serius sang sahabat tadi bertanya, “Kwek, Kiyai pengasuh memiliki berapa isteri?”, Saya kanget mendengar pertanyaan yang sama sekali tak terduga itu. Soalnya membicarakan keadaan keluarga Dalem merupakan pantangan terbesar bagi santri (cangkolang/pamali). Saya heran kenapa teman yang satu ini berani bertanya hal yang dianggap ‘sakral’ ini. Apa karena dia terlalu sering membaca rubrik kosultasi dr. Boyke, sehingga otaknya hanya penuh dengan urusan ‘bawah perut’ saja.
Dengan tampang yang tidak kalah seriusnya, saya menjawab, “Satu, kenapa?”, “Gak apa-apa, berarti kiyai gak kerreh ya?”. Kerreh = hyperseks
Spontan saya tertawa dengan komentar tersebut. Lagi-lagi saya dibuat terperanjat oleh keberanian teman ini. Sebab di kanan-kiri saya, banyak santri yang juga tengah menikmati sajian berita.
***
Joke barusan hanyalah penggalan kecil (pembuka) dari diskusi kecil—kecilan antara saya dengan Iman tentang fenomina poligami yang sudah menjadi trend para kiyai Jawa-Madura. Seorang kiyai tidak disebut ‘keren’ jika hanya mempunyai satu orang isteri saja. Banyaknya isteri menjadi lambang kegagahan dan kekharismaan kiyai tempo dulu.
Maklumlah ketika itu, pengetahuan kami masih sama-sama ‘cetek’ dan kemampuan beretorika masih nihil. Sehingga diskusi itu tidak lagi bersifat ilmiah dan argumentatif, malah sebaliknya diskusi itu berubah menjadi debat kusir yang tak kunjung selesai. Alasan-alasan yang kami kemukakan hanyalah informasi-informasi sepenggal yang pernah kami dengar dari para ustadz adan orang-orang. Dimana informasi tersebut tidak terjamin keabsahannya.
Kebetulan saya berdiri di pihak yang pro poligami. Alasan yang saya utarakan pada waktu itu —dan mungkin sekarang juga banyak dipakai— adalah firman Allah dalam surat an-Nisa` ayat tiga, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja.” Dari ayat tersbut —kata saya menjelaskan— Allah menyebutkan empat isteri baru tiga lalu dua kemudian satu. Jadi, isteri semakin banyak itu semakin Afdhal.
Dan juga —masih tetap menurut saya— jika kiyai berpoligami, tujuannya tidak lain hanyalah untuk menolong pihak sang isteri. Dengan menikahi perempuan tersebut, berarti secara tidak langsung sang kiyai telah membantu pihak perempuan, mengangkat harkat keluarga dan memperbaiki keturunan.
“Tapi itu khan untuk isteri kedua.” Sergah Iman, “Pernahkah sang kiyai itu memikirkan perasaan isteri tuanya? Apakah isteri tuanya tidak cemburu melihat suaminya menikah lagi? Apakah isteri tuanya tidak sakit hati melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain? Aku yakin dia pasti tersiksa.”
Saya gelagapan, bingung mencari argumen untuk bahan jawaban. Kufikir-fikir alasan Iman sangat masuk akal. Pasti isteri tuanya akan sakit hati. Tapi walaupun hati membenarkan, aku masih tetap ngotot menacri alasan lain untuk menundukkan teman tadi. Aku merasa malu jika kalah debat dengannya, dia termasuk adik kelasku di pesantren, walaupun di sekolah formal, kita sekelas.
Setelah mengorek-korek seluruh sampah di memori otak, akhirnya aku bisa membuka mulut, “Sudah pasti isteri tuanya setuju. Sebab aku pernah mendengar ustadz bercerita bahwa jika seorang isteri mengikhlaskan suaminya berpoligami, kelak di sorga dia mendapat payung emas. Ayoo.”
“Gak enak lah dapat payung emas, di samping berat, juga tidak bisa dimanfaatkan. Di surga khan gak ada hujan. Mau dijual juga tidak mungkin laku, sebab di sorga segala nikmat sudah tersedia. Buat apa beli emas.”
Sekarang saya benar-benar mati kutu, tidak bisa berkutik lagi. Saya hanya bisa berkata, “Ya udah yang waras ngalah. Aku mau melanjutkan bacaanku yang tadi terputus oleh pertanyaan isengmu itu.” Dia pun akhirnya pindah, tidak mengganguku lagi.
***
Sekarang saya baru tahu bahwa banyak motif yang melatarbelakangi seseorang berpoligami. Ada yang berpoligami karena isterinya mengidap penyakit mandul, tidak bisa memberikan keturunan. Ada pula yang menikah lagi karena desakan isteri pertama. Namun tidak jarang seseorang mencari isteri muda karena faktor kesenangan belaka.
Namun saya paling tidak suka melihat seseorang mengunakan agama sebagai tameng pembenar tindakannya. Padahal belum tentu dia mempunyai maksud mulia dengan berpoligami dan belum tentu dia bisa berlaku adil antar sesame isterinya. Bisa saja dia hanya ingin mencari-cari alasan untuk meloloskan keinginan bejatnya. Begitu juga, saya tidak setuju dengan orang yang mengatasnamakan humanitas (kemanusiaan) dan feminisme untuk membuang poligami secara keseluruhan.
Kiranya tidak pantas, apabila kita menggeneralisir sebuah permasalahan. Sebab di sana banyak hal yang tidak kita ketahui, kadang poligami menjadi sebuah solusi, kadang pula membawa rahmah dan tidak mustahil poligami menjadi pemicu retaknya rumah tangga.
Kearifan sangat kita butuhkan. Berfikir dengan kepala dingin akan lebih bermanfaat untuk mengatasi permasalahan daripada ngotot mempertahankan keinginan masing-masing yang cenderung akan memperunyam permasalahan. Kita sama-sama tidak tahu apa yang melatarbelakangi seseorang berpoligami. Janganlah kita menjadi ‘tuhan-tuhan kecil’ yang semberono menghakimi. Kebenaran hanyalah hak paten yang maha benar. “Semua kita bisa diterima dan ditolak kecuali penghuni pusara ini.” Begitulah kata Imam Malik. Wallahu a’lam.

0 komentar:
Posting Komentar