Selasa, 01 Desember 2009

Kiyai dan Hyperseksi

Sekitar tujuh tahun lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMP. tepatnya Pada hari Ahad, saya dan salah seorang sahabat, Iman sedang asyik menikmati sajian berita koran harian JAWA POS.

Sabtu, 26 September 2009

MALAM TRAGEDI

Tangan kirinya masih erat memegang kartu domino, matanya masih terus memelototi kartu bagiannya itu, mengurutnya sesuai jumlah bijinya. Ia sudah tiga kali kalah barusan, sekarang tak mau kalah lagi. Namun terpaksa ia harus menaruh satu persatu kartunya kelantai dalam keadaan terbalik, pertanda kartunya ada yang mati.

Kiat Sukses ala Breaking Time


Lebih dari dua belas abad yang silam, Imam Safi`i, seorang cendikiawan Muslim di zamanya, mengungkapkan sebuah kata mutiara yang sarat akan Hikmah. Beliau berkata: “Kita sering menyalahkan waktu, sedangkan kesalahan itu ada pada kita, dan tidak ada yang salah dengan waktu kecuali kita sendiri."

Jumat, 18 September 2009

Al-Qâdlî Abû Yûsuf


Abu Hanifah (80-150 H) memiliki banyak murid didik yang kelak akan menjadi penyebar Madzhab beliau dan sebagai penerus beliau dalam berijtihad dan men-tafri` hukum. Di antara murid beliau yang terkenal adalah Abu Yusuf.

AKU, ORGANISATORIS


Ketika awal saya menginjakkan kaki di negeri para Nabi ini, saya punya prinsip untuk memfokuskan diri dalam forum dan kegiatan ilmiyah saja, baik itu kuliah, talaqqi, diskusi maupun seminar. Tidak pernah terbetik dalam benak saya untuk berkecimpung dalam organisasi praktis. Saya hanya menginginkan ilmu, ilmu dan ilmu, sedang yang lainnya tidak.

17 September 2009- 27 Ramadhan 1430.

Entah kenapa, mulai tadi malam hatiku gelisah sekali, Salat Tarawih terganggu, bacaan tilawah Imam tarawih tidak dapat kuresapi. Pikiranku bercabang kemana-mana, ngelantur tak dapat dikendalikan. Akhirnya kuputuskan keesokan paginya aku harus telpon ke Indonesia, sebab sudah lama aku tidak melakukan kontak dengan keluarga dan sahabat. Apalagi Hp-ku mati beberapa minggu ini, jadi komunikasi betul-betul terputus.
Tadi pagi seusai Salat Dhuha, aku langsung munuju Mahattah, mununggu kendaraan jurusan Suq Madrasah. Belum sampai dua menit el-tramco sudah muncul dari arah Hayy Sabi’, dengan sedikit memberi kode, el-tramco tersebut berhenti di depanku dan membawaku ke tempat tujuan. Al-hamdu lillah, tempat telpon kebetulan sepi, sehingga aku bisa langsung menelpon keluarga tanpa harus antre terlebih dahulu.
Nomor yang pertama kali aku kontak adalah nomor Hp bapakku, ternyata ada gangguan jaringan dan tidak tersambung. Ketekan keyboard, memencet nomor adik, hasilnya tetap sama, ada gangguan jaringan. Kuulangi lagi menghubungi nomor bapak, al-hamdulillah terhubung. Adikku, Toyyibah, yang mengangkat telpon. Aku mulai tanya-tanya kabar keluarga dan sekolah adik-adikku, jawabannya memuaskan, keluarga dalam keadaan baik semuanya, dan sekolah adik-adikku berjalan lancar. Adik juga menanyakan kabarku di Mesir, kujawab dengan “Baik-baik saja”. Obrolan kami berlangsung sekitar lima menit, tiba-tiba adikku menanyakan kenapa dia SMS tidak aku balas, aku jelaskan bahwa Hp-ku beberapa hari ini rusak dan belum diperbaiki. Karena adikku sedang berada di sekolahnya, Apalagi hari itu hujan, suaraku tidak jelas terdengar dari sebrang. aku tidak berbicara dengan ayah dan ibuku, namun aku berjanji keesokan harinya aku akan menelpon kembali.
Puas berbincang-bincang dengan adik, aku langsung mengontak nomor teman-temanku, dan hanya nomornya Sabar yang dapat dihubungi, nomor teman lainnya di luar jangkauan (maklum rumahnya di puncak gunung). Waktu aku hubungi Sabar sedang berkumpul di rumah Dwi Erika Wati membahas rencana reuni MTS yang akan diadakan tanggal 24 Semtember ini. Ada enam orang kawan MTS yang berkumpul disana; Sabar, Mukim, Bukhari, Ema, Dwi dan Anisa. Teman-teman bergiliran ngobrol denganku.
Mukim hanya bertanya akan kabar kuliah di Kairo dan kapan mau pulang. Sedangkan Bukhari bertanya tentang kapan aku pulang saja. Bukhari memintaku segera pulang ke indonesia, dia khawatir jika aku terlalu lam di mesir kan menjadi sekularis seperti Jamal Abdul Nasir. Dengan nada gurauan aku tanggapi kekawatiran temanku yang satu ini dengan ungkapan, “Tidak mungkin aku menjadi seperti Jamal abdul nasir, aku malah akan menjadi seperti Imam Hassan al-banna. Tapi jangan doain aku dibunuh orang ya?”. Mendengar tanggapnku tersebut Bukhari tertawa dan berkata bahwa ia siap mendukung saya. Berbeda dengan para Harim, mereka sungkan-sungkan berbicara atau memang tidak ada yang mau dibicarakan. Memang selama di MTS, aku tidak pernah ngobrol ama mereka kecuali dengan Annisa yang kebetulan agak TB (tomboy), pantas saja mereka tidak ada topik yang mau diobrolkan. Mereka Cuma tanya kabar. Bosen, enam orang teman yang aku ajak ngobrol, semuanya hanya tanya kabar. Memang tidak ada pertanyaan lain apa.
Rupanya Sabar tidak sabar lagi (tidak sesuai dengan namanya) ingin ngobrol panjang lebar denganku. Tapi berhubung disana hujan dan suaranya tidak jelas terpaksa aku hanya bisa berjanji bahwa pada tanggal 24 nanti aku akan nelpon. Aku juga berjanji akan kirim foto ama Sabar. Akhirnya aku sudahi perbincangan singkat ini.
Karena tanggung, aku mencoba menghubungi Bapak Husain Tauanaya, guru sejarah islam-ku ketika di Aliyah dulu. Beliau berpesan agar kami rajin belajar di Cairo, dan juga beliau titip salam buat teman-teman PK di Cairo. Tidak lupa pula kesempatan ini aku gunakan untuk minta maaf atassegala kesalahan ketika di Aliayah dulu, sering bolos dan tidur di kelas. Beliau menanggapi permintaaan maafku dengan tertawa. Beliau berkata, “Itu bukan nakal, akan tetapi kreatif”. Kreatif buat masalah kaleee.
Tepat jam 11, aku pulang ke rumah. Plong rasanya hati ini sehabis menghubungi saudara dan teman- teman, apalagi sudah enam tahun lebih, sejak aku lulus MTS, tidak pernah bertemu dengan mereka. ingin rasanya aku inkut reunian, akan tetapi apa daya, aku hidup di negeri jauh dari tanah air. Semoga nanti ada kesempatan bersilaturrahmi dengan mereka. amin.
Cairo, 17 September 2009

Selasa, 15 September 2009

SEANDAINYA ADA DUA ALLAH


Seperti hari-hari sebelumnya, seusai salat subuh aku masih diam di Masjid as-Salam mendengarkan siraman rohani yang dibawakan oleh Syekh Jamal abdullathif. Pagi ini beliau mengupas tema tentang qiyam sebagai salah satu sarana untuk menghapus dosa. Beliau mengutarakan tema ini dengan lugas dan mampu menghipnotis para Jammah. Dengan gaya bahasa yang khas ditambah ekspresi yang menyakinkan beliau mampu membuat mata para Jamaah hanya tertuju pada beliau. Maklumlah beliau sebagai penganut ajaran Sufi kawakan, pastinya sudah sangat biasa berhadapan dengan massa dan mempengaruhi mereka.
Beliau biasa menutup ceramah beliau dengan doa, substansi doa beliau selalu berkisar pada permohonan ampunan dan rasa kefakiran kepada Allah. Namun pagi ini ada bagian dari doa yang beliau panjatkan membuat fikiranku kacau dan tidak khusyuk mengamini lagi. Beginilah bunyi doa yang membuatku kacau Rabbanâ iqdhi hawâijanâ wa lâ tukhayyib rajâ`anâ, fa inna ‘indanâ hawâ`ija katsîrah wa anta wâhid lâ ilâha ghayruk (Wahai Tuhanku, hamba mohon tunaikanlah keinginan hamba dan jangan Engkau kecewakan harapan hamba, karena sesungguhnya hamba mempunyai banyak keinginan, sedangkan engkau itu tunggal, tidak ada tuhan selain engkau). Sesungguhnya dilihat dari substasi lafazh dan makna, doa tersebut tidak ada yang yang salah. Otakku saja yang mungkin dlaam keadaan hank, butuh diinstall ulang.
Mendengar kalimat “Karena sesungguhnya hamba mempunyai banyak keinginan, sedangkan engkau itu tunggal, tidak ada tuhan selain engkau”, otakku berfikir dan bertanya-tanya, “Seandainya di dalam Islam ada dua tuhan atau tiga seperti dalam agama Hindu, apakah aku masih akan berdoa kepada Allah”. Sebab dalam doa tersebut, sangatlah jelas betapa takut sang Syekh jika harapannya tidak tercapai, Beliau akan minta kepada siapa lagi kecuali kepada Allah dan Allah itu hanya satu. Jiak Allah menolak, maka siapa yang mampu memenuhi.
Seandainya Allah itu ada dua, khan enak (astaghfirullah), jika tuhan satu tidak mau, toh masih ada tuhan yang lain. Kita bisa mencoba semuanya, tuhan mana yang paling sayang kepada makhluknya dan tuhan mana yang paling medit? Tuhan siapa yang kejam dan siapa juga yang lembut? Atau kita bisa menjadi seorang hamba yang disayang oleh bayak tuhan, layaknya seorang cowok yang dicintai banyak gadis, betapa senangnya.
Namun sebelum ngelindur terlalu jauh, fikiran tersebut segera aku hentikan. Aku takut gara-gara fikiran yang ngawur ini, hatiku terkena virus syakk dan imanku akan goyah. Segera beristighfar (bukan tiga kali), memohon ampun kepada Allah atas kelancanganku ini dan aku mengulang membaca dua kalimah syahadat, merefresh ulang imanku yang sudah lemah ini.
Bagaimana aku bisa berfikir lancang seprti itu, seakan-akan aku lupa (atau pura-pura lupa) akan ayat Allah dalam surah al-Anbiyâ` ayat 22 yang berbunyi, “Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan selain Allah, tentulah keduanya kan binasa. Maha suci Allah pemilik ‘Arsy dari apa yang mereka sifati” dan ayat Allah dalam surah al-Mu`minûn ayat 91, “Allah tidak mempunyai anak dan tiada tuhan lain besertanya, kalau begitu, tentulah setiap tuhan tentu akan membawa makhluk yang diciptakannya dan sebagian dari tuhan-tuhan itu  akan (berlomba-lomba) mengungguli sebagian yang lain, maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu”. Bagaimana aku bisa memiliki fikiran seperti itu, padahal ketika di tingkat satu kemarin, aku sudah belajar buku Tauhid karya Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali tentang hakikat keesaan Allah dan imposibiltas adanya dua tuhan atau lebih. Tapi demikian sifat manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang ia dapatkan, ia selalu ingin mendapatkan lebih dan lebih. Namun apa daya, otak ini diciptakan dengan segala keterbatasan, bagaimana mungkin manusia yang limitted bisa menjangkau tuhan yang unlimitted. Jangankan untuk mencapai esensi tuhan, jika manusia mampu mengenal hakikat dirinya sendiri, maka ia sudah termasuk manusia super. Sangatlah tepat bimbingan yang dipetuahkan oleh Rasul, “Berfikirlah kamu akan makhluk Allah, tapi janganlah kamu berfikir tentang hakikat Allah” ().


Rabu, 09 September 2009

As-Salam tak lagi Salam

Malam ini, malam kesembilan belas Ramadhan, saya lihat barisan Shaff Salat Isya dan Tarawih masjid As-Salam sudah semakin maju. Shaf-shaf yang biasanya penuh sampai melalap halaman Masjid dan separuh jalan raya, sekarang separuh Masjid saja sudah termasuk al-Hamdu lillah. Saya kira Cuma di Indonesia saja yang banyak masjid penuh di hari pertamanya saja, ternyata di Mesir juga gak kalah serunya, namun bedanya dengan di Indonesia sangat jauh, bagai langit dan tape. Kalau di Indonesia setelah malam kesepuluh bisa dijamin Jama’ah hanya tinggal setengah shaff saja, tapi di Mesir Masjidnya masih hampir penuh dengan jamaah.

Begitu juga khutbah istirahah (pidato/semacam kultum rohani) setelah Rakaat keempat, yang biasanya sang Khotib menjelaskan hikmah dan rahasia dibalik ayat yang dibaca ketika Tarawih, malam ini sang khotib hanya mejelaskan bagaimana tatacara membersihkan hati dan durasi waktunya tidak sampai tujuh menit, padahal biasanya khutbahnya paling cepat adalah dua puluh menit.

Kebetulan khotib yang mengisi di Masjid as-Salam tiap malam selalu berganti orang. Itulah salah satu keunikan Masjid as-Salam. Padahal masjid tersebut tidak pernah minta bantuan dana kepada siapapun, tapi banyak dai keren yang mengisi di sana (rata-rata doktor, dekan atau mantan dekan fakultas-fakultas dakwah al-Azhar).

Ini bukan berarti saya sok rajin beribadah dan sok alim, tapi ini adalah bentuk rasa prihatin saya terhadap fenomina keislaman belakangan ini. Kenapa umat Islam kok semakin malas untuk merayu tuhannya? tidakkah mereka tahu bahwa pada bulan yang penuh berkah ini pahala sebuah amal akan dilipatgandakan berkali-kali lipat. Di bulan ini pintu sorga dibuka selebar-lebarnya dan pintu neraka ditutup serapat-rapatnya.

saya kagum terhadap salah satu teman saya, yang kebetulan dia tinggal di daerah Saqar Quraisy, dia tiap hari harus naik angkot demi bis