Ketika awal saya menginjakkan kaki di negeri para Nabi ini, saya punya prinsip untuk memfokuskan diri dalam forum dan kegiatan ilmiyah saja, baik itu kuliah, talaqqi, diskusi maupun seminar. Tidak pernah terbetik dalam benak saya untuk berkecimpung dalam organisasi praktis. Saya hanya menginginkan ilmu, ilmu dan ilmu, sedang yang lainnya tidak.
Saya merasa jenuh untuk aktif dalam sebuah organisasi. Saya bisa merasakan bagaimana dulu ketika saya menjadi aktifis ‘habis’ di Madrasah Aliyah. Ketika itu, karena terlalu sibuk mengurusi OSIS sehingga waktu saya habis di jalan dan di base camp, tenaga saya terforsir habis untuk kegiatan dan rapat. Saya tidak pernah sempat belajar bahkan shalatpun jauh lebih cepat daripada bebek mandi. Akibatnya ketika akhir tahun ajaran, saya harus puas dengan nilai saya yang dihiasi dengan angka 7dan 6, kayak rokok saja. Ketika itu saya hanya bisa menyesal dan berfikir seandainya waktu dan tenaga itu saya gunakan untuk belajar, pastinya nilai saya tidaklah sejelek ini. Namun apa boleh buat, semuanya sudah terjadi, yang paling penting jangan diulangi lagi.
Saya merasa kaget ketika saya sudah beberapa hari tinggal di Mesir, ternyata di Mesir juga banyak organisasi kemahasiswaannya, ada kekeluargaan, almamater, senat, marhalah dan masih banyak lagi. Kalau begini, sama saja antaara Mesir dan Indonesia, sama-sama sibuk.
Saya kadang merasa heran dengan para mahasiswa yang suka menghabiskan waktunya hanya untuk berorganisasi. Buat apa mereka jauh-jauh belajar ke Mesir jika hanya untuk berorganisasi? mengapa mereka tidak kuliah di Indonesia saja yang fasilitas dan media organisasinya jauh lebih bagus dan lengkap? Kenapa harus ke Mesir? Apa tidak salah?
Karena prinsip anti organisasi itulah, saya menolak ajakan senior untuk mendaftarkan diri ke salah satu kekeluargaan di Kairo. Setelah diberi penjelasan panjang lebar akan pentingnya kekeluargaan bagi mahasiswa yang jauh dari tanah airnya, akhirnya saya bersedia. Tapi saya bingung ke kekeluargaaan mana saya akan mendaftar. Kalau dilihat dari tempat lahir dan tinggal, cocoknya saya mendaftar ke GAMA JATIM (Keluarga Masyarakat Jawa Timur), tetapi kalo dilihat dari darah dan keturunan selayaknya saya mendaftar ke FOSGAMA (Forum Studi Keluarga Madura). Kucoba meminta pendapat teman satu rumah dan mereka menyarankan saya untuk mendaftar ke FOSGAMA. Lalu saya mendaftarkan diri kesana, hanya sekedar mendaftar, yang penting tercatat sebagai anggota.
Walaupun sudah terdaftar sebagai anggota, saya tidak pernah hadir dalam acara yang diadakan oleh FOSGAMA kecuali acara kajian dan keilmuan saja. Sebab hanya dua kegiatan itulah yang tidak menyalahi prinsip awal saya sebagai mahasiswa yang orientasi utamanya adalah ilmu.
Di kekeluargaaan, saya banyak belajar dari senior bagaimana cara mengatur waktu yang baik. Salah satunya ialah Kweh Abdussyukur, ketua fosgama pada waktu itu. Kata beliau organisasi itu bukanlah penghambat kelancaran studi jika kita mampu menggunakan waktu sebaik-baikya bahkan dengan berorganisasilah banyak ilmu dan pengalaman yang dapat kita petik, diantaranya semangat belajar. Sebab lewat organisasilah kita bisa berinteraksi dengan orang-orang hebat yang bisa memotivasi kita untuk maju, maju dan maju.
Apa yang dikatakan ketua fosgama itu betul-betul saya rasakan. Contohnya ketika saya sedang futur dan malas belajar, saya jalan-jalan ke kekeluargaan untuk menghilangkan stress, ternyata yanga saya dapatkan bukan hanya stress yang hilang, tapi semangat belajar saya pun terdongkrak. Hasilnya bisa dirasakan dengan jelas ketika telah sampai di rumah, saya langsung buka buku dan belajar dengan ikhlas.
Sejak itulah, saya mulai rajin menghadiri acara-acara kekeluargaan asal tidak berbenturan dengan kegiatan ilmiyah yang lain. Rupanya keaktifan saya ini diperhatikan oleh beberapa senior, terbukti tawaran untuk ikut kegiatan mereka diluar kekeluargaan banyak berdatangan, namun semuanya saya tolak kecuali kegiatan belajar pidato dan retorika.
Setelah kepengurusan Kweh Syukur domisioner dan digantikan oleh kepengurusan baru yang dinakhodai oleh Om Jemil, saya dipercaya untuk melengkapi kepengurusan di FOSGAMA sebagai anggota BSO Penerbitan. Mulanya saya menolak, namun akhirnya setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya saya menerima tawaran tersebut, toh itu tidak mengganggu jadwal kuliah saya bahkan bisa dijadikan media pembelajaran yang baik.
Lewat media penerbitan FOSGAMA inilah, saya mulai mengenal tulis menulis. Saya dituntut untuk frofesional dalam bekerja, sabar dan kreatif. Bayangkan, untuk meminta tulisan pada seseorang, saya harus bisa merayu dengan halus, menelpon dan mendatangi rumahnya. Untung jika ia bersedia, banyak alasan yang dikemukakan oleh seseorang untuk menolak permintaan kami. Ada yang beralasan sibuk, capek, tidak bisa menulis dan lain sebagainya. Tapi tak jarang pula yang bersedia menulis, tapi setelah deadline yang ditentukan, ternyata tidak ada sebaris katapun yang ia tulis, dengan alasan tidak sempat.
Kalau sudah seperti ini, kru yang bingung bagaimana cara mendapatkan tulisan untuk rubrik yang masih kosong. Jalan satu-satunya ialah kru yang harus mengisi. Bisa dibayangkan, seperti apa tulisan orang yang terburu-buru dikejar deadline, pasti asal tulis yang penting ada.
Begitu juga yang terjadi pada diri saya, saya harus menulis rubrik yang saya tidak tahu karaktaeristik dan bentuknya. Hasilnya, saya harus puas menerima banyak pujian miring ketika bertemu dengan teman. Ada yang bilang “kok bahasanya kayak bahasa preman”, “keren Kweh tulisannya, jarang-jarang lho ada yang bisa seperti itu” dan komentar- komentar lainnya yang bisa membuat orang jera untuk menulis lagi.
Walaupun banyak komentar tak sedap saya dengar, saya tidak merasa malu dan minder. Justru saya semakin semangat untuk belajar menulis. Saya tidak mau disebut sebagai spesialis rubrik ALAWAK saja. Saya harus bisa menulis hal lain selain lawak. Itu tekad saya.
Dari pengalaman yang mengewakan itulah, saya bisa sadar bahwa menulis itu gampang-gampang susah. Untuk mendapatkan ide tulisan, kalau tidak kepepet tidak mungkin ketemu. Ditambah lagi memilih diksi, menyambung kalimat, alinea dan memenuhi jumlah karakter yang di tentukan, sulitnya minta ampun.
Sekarang di masa kepemimpinan Akhi Syadid, saya dipercaya untuk mengkordinatori BSO Kajian BINDHARA. Sesungguhnya saya dijadikan kordinator BSO Kajian bukanlah atas kehendak Akhi, namun kordinator sebelumnya menyarankan kordinator Kajian haruslah orang Kajian. Mungkin beliau khawatir, jika Kajian dipegang oleh selain orang Kajian, ditakutkan Kajian FOSGAMA akan mati lagi seperti dua tahun sebelumnya. Padahal konon katanya, kelebihan FOSGAMA ada pada kajiannya, seperti pada masa Mas Zuhairi Mishrawi, Guntur Romli dan Aisyah Tijani. Oleh karena itu, Akhi meminta kesediaan saya untuk menjadi kordinator BSO Kajian. Permintaan ini saya terima dengan senang hati, sebab diskusi memang hobi saya sejak di pesantren dulu. Saya menyukai kajian dan diskusi sebab diskusi menuntut orang untuk amanah dalam memberikan data dan fakta juga harus bisa menganalisa persoalan dengan baik. Oleh karena itu dituntut untuk rajin membaca dan menuliskan pendapat dan data dengan benar dan valid.
Jadi, tidak selamanya organisasi itu menghabiskan waktu tanpa manfaat, justru dengan organisasilah kita bisa saling tukar ilmu. Apalah guna ilmu kita segudang, jika kita tidak pernah mentransformasikannya ke orang lain. Yang penting atur waktu dengan baik.

0 komentar:
Posting Komentar